04 Jun 2026
ditinjau oleh dr. Astrid Sophia
Kanker masih menjadi penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi di berbagai negara, terutama di negara berkembang. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI dan Global Cancer Observatory (Globocan), terdapat sekitar 408.661 kasus kanker baru dengan 242.099 angka kematian di Indonesia setiap tahunnya. Kasus ini diproyeksikan melonjak hingga lebih dari 60 persen jika deteksi dini dan intervensi preventif tidak segera diperkuat.
Salah satu upaya mengendalikan kanker adalah dengan menceteksinya sejak dini. Sayangnya, masih banyak penderita kanker yang mengabaikan gejala dan cek ke dokter ketika sudah ada gejala. Kebanyakan justru berobat ke pengobatan alternatif, tanpa sadar sel-sel kanker terus berkembang dan menyebar ke organ lain sehingga semakin mempersulit pengobatan.
Menyadari tantangan ini, dalam Siloam Oncology Summit 2026, yang berlangsung Mei 2026 lalu, salah satu workshop mengambil tema Comprehensive Cancer Screening. Workshop ini diikuti oleh para dokter umum dari berbagai daerah di Indonesia.
Pentingnya Skrining dan Deteksi Dini Kanker
dr. Santi Christiani Gultom Sp.PD-KHOM Dokter Spesialis Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, menjelaskan berbagai prinsip-prinsip screening kanker.
Menurut dr. Santi, screening merupakan bagian dari deteksi dini, di mana screening ditujukan untuk menyaring orang dalam jumlah besar yang tidak memiliki keluhan atau gejala sehingga didapatkan hasil antara orang yang positif menderita penyakit dan negatif. Sementara diagnosis dini yang juga merupakan bagian dari deteksi dini merupakan pelayanan yang diberikan umumnya per individu yang sudah memiliki gejala, hingga menemukan diagnosis.
“Screening tidak bertujuan mendiagnosis, tetapi hanya untuk menyaring yang sakit dan tidak. Alur dalam skrining diawali dengan identifikasi populasi yang masuk dalam kategori (misalnya kejadian kanker payudara pada wanita usia tertentu). Pasien lalu diberikan informasi yang sejelas-jelasnya. Dilakukan tes dengan tes yang disetujui sebagai alat skrining. Hasilnya diinformasikan ke pasien,” papar dr. Santi.
Ditambahkan oleh dr. Santi, prinsip yang dipakai peneliti untuk menentukan keputusan dalam melakukan screening kanker di antaranya adalah adanya masalah kesehatan yang signifikan pada suatu wilayah, proses alur yang praktis, biaya efektif, alat skrining tes yang aman dan umumnya dapat dengan mudah diterima dan dikerjakan, dapat melanjutkan proses diagnostik pada hasil yang positif dan tersedia akses untuk pengobatan.
“Semua harus praktis, cost-efektif, dapat mencegah insiden yang meningkat. Tesnya harus simple, aman, dan bisa diterima semua populasi. Selain itu juga harus tersedia terapinya jika ditemukan ada yang positif,” katanya.
Dalam workshop dr. Santi juga menjelaskan beberapa metode screening kanker berdasarkan guideline yang dibuat oleh WHO untuk negara dengan resource terbatas seperti pada negara-negara berkembang.
1. Kanker paru
Pada kanker paru, screening yang dijadikan standar menggunakan low-dose CT (LDCT) ditujukan untuk populasi berisiko, yakni orang berusia di atas 50 tahun, merokok atau pernah merokok 20 pack-year. LDCT memiliki keunggulan dalam kecepatan dan hasil, yaitu paparan radiasi yang rendah, serta gambaran hasil yang lebih detail dibandingkan foto toraks.
2. Kanker payudara
Untuk kanker payudara, pemeriksaan mamografi dianjurkan bagi perempuan berusia di atas 40 tahun setiap dua tahun. Pemeriksaan mutasi genetik BRCA juga disarankan pada individu dengan faktor keturunan atau riwayat keluarga kanker payudara.
Melalui program SELANGKAH (Semangat Lawan Kanker), RS Siloam Group menyediakan skrining kanker payudara gratis berupa USG dan mamografi. Sepanjang 2023–2025, program ini telah menjangkau 52.000 perempuan, dengan 3.000 di antaranya menjalani pemeriksaan mamografi."
3. Kanker usus besar
Pilihan screening kanker kolon pilihan tesnya adalah stool based, serta visual exam of the colon and rectum. Menurut dr. Santi, pasien dalam kelompok high risk harus di-screening, apa pun tesnya. Pada kanker serviks, rekomendasi untuk daerah dengan sumber daya terbatas adalah IVA dan HPV DNA.
4. Kanker serviks
Metode screening kanker serviks secara lebih mendalam disampaikan oleh dr. Widyorini Lestari Hanafy Sp.OG Subsp.Onk (K), Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Onkologi Ginekologi MRCCC Siloam Semanggi. Ia menyebutkan bahwa dokter umum dan bidan sebagai backbone pemeriksaan kanker serviks di RS perifer dan RS tipe D dan C.
Metode program skrining kanker serviks di Indonesia antara lain Pap smear (konvensional dan liquid-based), IVA, tes HPV DNA.
“Pada tes Pap smear, sensitivitasnya hanya sekitar 60 persen, terkadang dapat terjadi false negative, membutuhkan infrastruktur yang kompleks, serta kurang akurat pada perempuan pascamenopause. Sementara itu, pada pemeriksaan IVA, prosedur dan alat yang dibutuhkan lebih sederhana. Namun, tenaga kesehatan tetap memerlukan pelatihan berulang agar terbiasa dan mampu melakukan pemeriksaan dengan baik,” jelas dr. Widyorini.
Sementara itu, skrining kanker serviks di Indonesia mengarah ke pemeriksaan HPV DNA. Saat ini WHO menyarankan pemeriksaan HPV DNA sebagai standar skrining kanker serviks.
“Prinsip tatalaksana jika hasil skrining abnormal: make it simple, dan pastikan lihat visual serviks,” tegas dr. Widyorini kepada para tenaga kesehatan yang menjadi peserta.
Sebagai kesimpulan, edukasi tentang pentingnya skrining kanker dan diagnosis dini perlu ditingkatkan di masyarakat. Saat ini kasus kanker terbanyak di Indonesia adalah kanker paru, kanker kolon, kanker payudara, dan kanker serviks. Sebagian besar kanker tidak menunjukkan gejala di awal, sehingga skrining dan deteksi dini sangat penting.