02 Oct 2026
ditinjau oleh dr. Astrid Sophia
Paparan asap dalam jumlah besar atau dalam waktu lama bisa menimbulkan gangguan kesehatan serius, terutama pada bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan.
Bahaya asap kebakaran juga tidak selalu terlihat dari seberapa tebal asap yang dihirup. Asap yang tampak mulai menipis belum tentu berarti udara sudah aman. Karena itu, penting bagi setiap keluarga untuk memahami dampak paparan asap kebakaran dan mengetahui cara melindungi diri.
Asap kebakaran mengandung campuran zat yang berbeda-beda, bergantung pada bahan yang terbakar. Kebakaran rumah, kendaraan, hutan, atau lahan dapat menghasilkan partikel dan gas berbahaya dengan kadar yang berbeda.
Beberapa kandungan yang perlu diwaspadai antara lain:
Partikel halus (PM2.5): Partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan. Sebagian partikel bahkan dapat masuk ke aliran darah.
Karbon monoksida (CO): Gas tidak berwarna dan tidak berbau yang menghambat kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh. Paparan kadar tinggi dapat menyebabkan keracunan hingga kematian.
Iritan saluran pernapasan: Berbagai gas dan senyawa kimia dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, dan paru-paru.
Senyawa beracun lainnya: Pembakaran plastik, busa, bahan bangunan, dan material sintetis dapat menghasilkan zat berbahaya, termasuk hidrogen sianida pada kondisi tertentu.
Komposisi asap tidak selalu sama. Namun, satu hal yang perlu diingat adalah menghirup asap kebakaran dalam jumlah banyak dapat membahayakan kesehatan, bahkan jika seseorang tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya.
Dampak asap kebakaran bisa muncul segera setelah terpapar atau berkembang beberapa jam kemudian. Tingkat keparahannya dipengaruhi oleh konsentrasi asap, lamanya paparan, jenis bahan yang terbakar, dan kondisi kesehatan seseorang.
Berikut beberapa dampak yang perlu diwaspadai.
a. Iritasi mata dan saluran pernapasan
Paparan asap dapat menyebabkan mata merah, perih, berair, hidung berair, tenggorokan terasa kering, serta batuk. Keluhan ini dapat terjadi meskipun paparan berlangsung dalam waktu relatif singkat.
b. Sesak napas dan gangguan paru-paru
Partikel halus dan gas iritan dapat menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami sesak napas, napas berbunyi atau mengi, dan dada terasa berat. Pada paparan berat, kerusakan saluran pernapasan dapat mengancam nyawa.
c. Memperburuk asma dan penyakit paru-paru
Orang yang memiliki asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau gangguan pernapasan lainnya lebih berisiko mengalami kekambuhan dan perburukan gejala ketika terpapar asap.
d. Gangguan jantung dan peredaran darah
Partikel halus dapat memicu peradangan dan memengaruhi sistem kardiovaskular. Sementara itu, karbon monoksida dapat mengurangi pasokan oksigen ke organ tubuh. Pada orang yang rentan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan jantung.
e. Keracunan karbon monoksida
Karbon monoksida sangat berbahaya karena tidak berwarna dan tidak berbau. Gejala keracunan dapat berupa sakit kepala, pusing, mual, lemas, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran. Orang yang mengalami keracunan berat dapat meninggal dunia apabila tidak segera mendapat pertolongan. Risiko keracunan karbon monoksida sangat perlu diperhatikan pada kebakaran di dalam ruangan, terutama ketika ventilasi terbatas.
Anak-anak, terutama bayi dan balita, termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap polusi udara dan asap kebakaran. Hal ini berkaitan dengan sistem pernapasan dan kebutuhan oksigen mereka.
Beberapa alasannya meliputi:
Saluran pernapasan masih berkembang. Iritasi dan peradangan dapat mengganggu pernapasan anak yang saluran udaranya masih relatif kecil.
Menghirup lebih banyak udara dibandingkan berat tubuhnya. Anak-anak dapat menerima paparan polutan yang relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa berdasarkan berat badannya.
Belum mampu mengenali dan menyampaikan gejala dengan baik. Bayi dan balita mungkin hanya menunjukkan tanda seperti rewel, sulit menyusu, batuk, atau bernapas lebih cepat.
Lebih berisiko mengalami kekambuhan asma. Anak yang memiliki asma atau penyakit pernapasan tertentu dapat mengalami gejala yang lebih berat setelah terpapar asap.
Paparan asap juga perlu dihindari pada ibu hamil karena karbon monoksida dapat mengurangi pasokan oksigen kepada janin. Paparan berat berpotensi membahayakan ibu dan janin sehingga memerlukan penanganan medis segera.
Tidak semua orang yang terpapar asap langsung mengalami gejala berat. Namun, orang tua perlu mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan setelah anak atau anggota keluarga menghirup asap.
Gejala yang dapat muncul meliputi:
Batuk terus-menerus, tenggorokan terasa sakit, atau suara menjadi serak.
Mata perih, hidung berair, atau sakit kepala.
Napas terasa pendek, cepat, atau berbunyi.
Dada terasa nyeri atau berat.
Pusing, mual, lemas, atau kebingungan.
Segera cari pertolongan medis darurat jika Anda mengalami sesak napas berat, bibir kebiruan, nyeri dada, kebingungan, kejang, pingsan, atau sulit dibangunkan. Luka bakar pada wajah, jelaga di hidung atau mulut, serta suara serak atau batuk setelah terjebak dalam kebakaran juga memerlukan pemeriksaan segera karena dapat menandakan cedera saluran napas.
Perlu diingat, gejala keracunan karbon monoksida dapat menyerupai flu atau kelelahan. Jangan menunggu sampai gejalanya berat, terutama jika seseorang berada di ruang tertutup saat kebakaran terjadi.
Anda bisa menghubungi dokter melalui aplikasi dkonsul bila ingin berkonsultasi seputar bahaya paparan asap, termasuk asap rokok dan mengalami gejala yang tidak biasa di saluran pernapasan.