26 Feb 2026
ditinjau oleh Ana Yuliastanti
Menurut rekomendasi dari American Diabetes Association
(ADA), penderita diabetes termasuk kelompok yang berisiko saat berpuasa,
terutama jika menggunakan insulin atau obat yang berpotensi menyebabkan
hipoglikemia (gula darah turun drastis).
Risiko yang perlu diwaspadai antara lain:
·
Hipoglikemia (gula darah <70 mg/dL)
·
Hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi)
·
Dehidrasi
·
Ketoasidosis diabetik (pada diabetes tipe 1)
Namun, bukan berarti semua penderita diabetes dilarang
berpuasa. Pasien dengan diabetes tipe 2 yang terkontrol baik, tidak memiliki
komplikasi, dan tidak sering mengalami hipoglikemia biasanya masih bisa
berpuasa dengan penyesuaian jadwal dan dosis obat.
Penyesuaian umum yang sering dilakukan dokter antara lain:
·
Obat diminum saat berbuka dan sahur
·
Dosis insulin disesuaikan
·
Pemantauan gula darah tetap dilakukan meski
sedang puasa (tidak membatalkan puasa)
Jika selama puasa muncul gejala seperti gemetar, keringat
dingin, pusing berat, atau sangat lemas, puasa harus segera dibatalkan demi
keselamatan.
Sementara itu, pada penderita hipertensi, puasa umumnya
relatif aman jika tekanan darah terkontrol dan tidak ada komplikasi berat
seperti gagal jantung atau penyakit ginjal kronis.
Berdasarkan pedoman dari European Society of Cardiology
(ESC), pasien hipertensi tetap harus minum obat secara teratur untuk mencegah
lonjakan tekanan darah yang berisiko stroke atau serangan jantung.
Strategi yang biasa dilakukan:
·
Obat sekali sehari diminum saat sahur atau
berbuka (sesuai anjuran dokter)
·
Hindari makanan tinggi garam saat berbuka
·
Cukup minum air antara berbuka hingga sahur
·
Tetap memantau tekanan darah di rumah
Masalah sering muncul bukan karena puasanya, tetapi karena
pola makan saat berbuka yang berlebihan: terlalu asin, terlalu manis, dan
kurang cairan.
Agar berpuasa tetap nyaman dan tidak memicu masalah fisik,
sebaiknya lakukan hal berikut:
1.
Konsultasi dokter kalau bisa sebelum Ramadan.
2.
Jangan mengubah dosis obat sendiri.
3.
Tetap lakukan kontrol gula darah atau tekanan
darah.
4.
Kenali tanda bahaya dan jangan ragu membatalkan
puasa.
5.
Atur pola makan seimbang saat sahur dan berbuka.
Puasa seharusnya membawa ketenangan, bukan risiko
kesehatan. Dengan perencanaan medis yang tepat dan disiplin menjalani terapi,
sebagian penderita diabetes dan hipertensi tetap bisa menjalankan ibadah dengan
aman. Namun, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Anda bisa tetap terhubung dengan dokter untuk konsultasi
kapan saja, di dkonsul.